Alloh
Maha Pemberi petunjuk. Alloh telah menurunkan Al-Qur’an dan Rosul-Nya
sebagai petunjuk dari Alloh
kepada seluruh manusia. Dalam hal yang
terkecil pun ada petunjuknya seperti adab tentang buang air. Dalam penggunaan
harta yang telah Alloh
anugerahkan kepada seseorang/ keluarga ada
petunjuknya. Dengan menggunakan harta sesuai petunjuk Alloh
dapat mengatarkan pada keberkahan dan kebahagiaan.
Perlu diimani bahwa harta adalah bagian dari
rezeki yang telah Alloh
tetapkan sebelum manusia itu lahir, maka
jangan khawatir tentang hal itu. Hanya saja pembahasan penting bagi umat Islam
tentang usahanya meraih rezeki dengan baik dan menyalurkannya dengan baik pula,
karena kedua hal itu menjadikan keberkahan pada harta yang dititipkan Alloh
kepada manusia.
A. Harta yang berkah diraih dengan cara yang laik.
Ada banyak cara untuk meraih rezeki Alloh
yang berupa harta. Semua itu ada petunjukknya di dalam
sumber agama Islam. Di antara hal tersebut yaitu:
1. Bekerja dengan Tangan Sendiri.
Harta yang paling
baik bagi kita adalah harta dari usaha kita dalam berkerja dengan tenaga
sendiri baik pikiran dan anggota badan, tidak bergantung kepada orang lain.
Rosululloh
bersabda:
« مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُ خَيْرًا مِنْ
أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ
كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ »
“Tidak ada sesuatu yang dikonsumsi seseorang yang
lebih baik dari hasil kerja tangannya. Sesungguhnya nabi Dawud
makan dari hasil kerja tangan beliau.” (HR.
al-Bukhori)
Banyak pekerjaan
yang halal dapat dilakukan oleh setiap orang muslim, tanpa harus melakukan
pekerjaan yang haram. Dengan itu harta menjadi berkah.
2. Bekerja dengan penuh ketakwaan.
Seorang muslim
dituntut beriman dan bertakwa dalam pekerjaannya mencari harta, karena harta yang akan diraihnya berasal dari
Alloh
. Seorang muslim harus yakin
kepada Alloh
atas anugerah yang akan diberikan kepadanya,
tidak ada yang dapat memberikan hal itu kecuali Dia. Oleh karena itu, ketakwaan
dan ketawakkalan kepada Alloh
menjadi sebab peroleh harta yang berkah. Alloh
berfirman:
öqs9ur ¨br& @÷dr& #tà)ø9$# (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur $uZóstGxÿs9 NÍkön=tã ;M»x.tt/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur `Å3»s9ur (#qç/¤x. Mßg»tRõs{r'sù $yJÎ/ (#qçR$2 tbqç7Å¡õ3t ÇÒÏÈ
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.“ (QS. al-A’rof [7]: 96)
Sebaliknya, seorang mendustakan
Alloh
dengan menganggap harta yang diperoleh dari
tangannya sendiri bukan dari pemberian Alloh
dapat menyebabkan hilang keberkahan dalam
hartanya.
3. Bersyukur Atas Harta
yang diperoleh.
Sebab yang ketiga
agar harta yang kita miliki menjadi berkah adalah bersyukur. Sikap kita yang
selalu bersyukur kepada Alloh
akan membukakan pintu kasih sayang-Nya dengan
memberikan tambahan dan keberkahan kepada hambanya. Alloh
berfirman:
ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyÎV{ (
ûÈõs9ur ÷Länöxÿ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓÏt±s9 ÇÐÈ
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih". (QS. Ibrohim [14]: 7)
Sebaliknya, orang
yang enggan mensyukuri harta yang yang dimilikinya, walaupun hanya sedikit akan
mendatangkan murka Alloh
dan hartanya menjadi sia-sia. Seperti yang
dilakukan oleh kaum Saba’, mereka ingkar kepada Alloh
, sehingga kenikmatan mereka
diganti dengan yang sedikit.
4. Berdoa.
Sebab yang keempat
agar harta menjadi berkah adalah doa. Seorang Muslim disyariatkan untuk
memanjatkan doa kepada Alloh
agar diberikan keberkahan baik harta, keluarga
dan lainnya. Hal itu, dicontohkan oleh Rosululloh
. Pada saat paceklik dan perang
Ahzab, para sahabat
bersusah
payah menggali parit untuk menghadang serangan musuh. Dalam keadaan itu, Nabi
berdoa:
« اللَّهُمَّ
إِنَّهُ لّا خّيْرَ إِلاَّ خَيْرَ الآخِرَةِ، فَبَارِكْ فِي الأَنْصَارِ وَالمُهَاجِرَةِ
»
“Ya Alloh, Sesungguhnya tidak ada kebaikan melainkan kebaikan
Akhirat. Berilah keberkahan pada orang
Anshor dan Muhajirin.” (HR. al-Bukhori)
Di lain kesempatan, Rosululloh
mendoakan Anas bin Malik
pembantu setianya:
« اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا
أَعْطَيْتَهُ »
“Ya Alloh perbanyaklah hartanya dan
anaknya, berkahilah dia dan pada apa yang engkau berikan.” (HR.
al-Bukhori dan Muslim)
Setelah itu, Anas bin Malik
menyatakan
bahwa hartanya sangat banyak dan mendapatkan keberkahan dari Alloh
.
B. Harta yang berkah disalurkan padahal yang baik.
Selain dari cara meraih harta, keberkahan
dalam harta dapat diusahakan melalui cara penggunaannya.
Seorang Muslim dilarang menimbun harta,
sehingga hak-hak anggota badan dan orang-orang yang ada disekitarnya tidak
terpenuhi. Hal itu termasuk mendzolimi diri sendiri dan orang lain. Oleh karena
itu, harta harus disalurkan kepada haknya masing-masing. Seorang dituntut tidak
kikir dan tidak boros. Alloh
berfirman tentang sifat orang Mukmin:
tûïÏ%©!$#ur !#sÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèùÌó¡ç öNs9ur (#rçäIø)t tb%2ur ú÷üt/ Ï9ºs $YB#uqs% ÇÏÐÈ
“Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan,
dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara
yang demikian.” (QS. al-Furqon [25]: 67)
Berikut ini beberapa hal penggunaan harta
yang menyebabkan keberkahan pada harta yang kita miliki:
1. Nafkah pada diri
sendiri dan keluarga.
Hak badan kita dan
keluarga kita harus dipenuhi. Harta yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan
itu adalah harta yang kita peroleh dari usaha sendiri seperti hadits tentang Nabi
Dawud
di atas, bukan harta orang lain. Seorang
laki-laki yang mempunyai pekerjaan dan harta, maka hartanyalah yang lebih patut
untuk dinafkahkan kepada dirinya sendiri, isteri dan keluarganya, bukan harta
orang lain atau harta Negara. Rosululloh
bersabda:
« وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللهِ
إِلاَّ أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِيِّ امْرَأَتِكَ »
“Dan sesungguhnya tidaklah engkau menginfaqkan suatu
nafkah kemudian engkau mengharap wajah Alloh kecuali engkau mendapatkan pahala,
bahkan nafkah yang engkau berikan pada istrimu (juga mendapat pahala).” (Muttafaqqun ‘Alaih).
Apabila orang itu memiliki orang tua yang
membutuhkan nafkahnya, maka hartanya layak dinafkahkan kepada orang tuanya,
bukan menggantungkan pada saudaranya dan orang lain.
« دِيْنَارٌ
أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارُ
تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا
أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ »
“Satu
dinar yang kamu nafkahkan di jalan Alloh, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk
memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu
dinar yang kamu nafkahkan kepada keluarga, yang paling besar pahalanya adalah
yang kamu nafkahkan untuk keluarga”. (HR. Muslim)
2. Belanja yang
Bermanfaat.
Harta dapat menjadi berkah dan dapat
menjadi fitnah, hal itu tergantung pada sikap pemiliknya terhadap harta. Orang
yang berlebihan dalam mencintai harta dapat mengantarkan kepada kerusakan
dirinya sendiri di dunia dan di akhirat. Rosululloh
memperingatkan umatnya tentang fitnah harta:
« إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ »
“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (yang merusak dan menyesatkan
mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.” (HR.
Tirmidzi, dan dishohihkan oleh al-Albani)
Untuk menghidari fitnah harta, maka gunakanlah
harta dalam pembelanjaan barang-barang yang halal dan
bermanfaat di dunia dan di akhirat.
3. Infak dan Sedekah.
Harta yang kita miliki anugerah Alloh
yang di dalamnya ada hak orang lain. Sehingga
Islam mewajibkan umat Islam yang mampu untuk membayar zakat untuk fakir, miskin
dan orang-orang yang berhak menerima zakat.
Infak orang Muslim karena Alloh
dapat menambah keberkahan hartanya bukan
mengurangi hartanya. Sesuai dengan janji Alloh
didalam al-Qur’an:
ö!$tBur OçFø)xÿRr& `ÏiB &äóÓx« uqßgsù ¼çmàÿÎ=øä (
uqèdur çöyz úüÏ%κ§9$# ÇÌÒÈ
“Barang apa saja yang kalian nafkahkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ [34];
39)
Rosululloh
bersabda:
« مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا
بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
»
“Tidaklah
sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba
dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah
seseorang merendahkan diri di (hadapan) Alloh kecuali Dia akan meninggikan
(derajat)nya.” (HR. Muslim)
Infak dan sedekah dikala lapang dan
dikala sempit
÷,ÏÿYãÏ9 rè 7pyèy `ÏiB ¾ÏmÏFyèy (
`tBur uÏè% Ïmøn=tã ¼çmè%øÍ ÷,ÏÿYãù=sù !$£JÏB çm9s?#uä ª!$# 4
“Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang
disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Alloh
kepadanya.” (QS. Al-Tholaq [65]: 7)Wallohu A’lam…?
Komentar
Posting Komentar